Laboratorium


Mutu adalah kesesuaian dengan spesifikasi yang ada, yang harus memenuhi keinginan pembeli. Spesifikasi dapat ditentukan oleh produsen atau konsumen. Ini merupakan slogan bisnis, tidak hanya untuk pabrik kelapa sawit, namun berlaku umum bagi unit-unit bisnis yang lain. Oleh karena ini diperlukan pemantauan mutu dari segala hal yang berkaitan dengan proses bisnis dalam pabrik kelapa sawit. Fungsi ini dijalankan oleh sebuah laboratorium. Adapun tugas laboratorium di PKS adalah :

  • Memeriksa kwalitas CPO dan kernel
  • Menghitung berapa banyak hasil produksi yang hilang selama proses
  • Menganalisa raw water dan boiler water
  • Memonitor perombakan anaerobik dengan melakukan analisa rutin limbah

Parameter Mutu Minyak Sawit

  • FFA ( Free Fatty Acid)

FFA atau Free Fatty Acid adalah group dari asam organik yang terdapat dalam minyak sawit. FFA di dalam minyak sawit, sebagian besar palmitat, stearat dan oleat. Kandungan palmitat lebih banyak didalam minyak sawit sehingga Berat molekulnya digunakan dalam perhitungan.  FFA terbentuk akibat adanya air dan katalis melalui reaksi hidrolisa.

Minyak (Trigliserida) + Air ——> FFA + Gloserol

Ada 2 dasar hidrolisis  katalis didalam minyak sawit. Pertama hidrolisis enzimatik. Lemak aktif memecahkan enzim, sebagian besar lipoid yang ada didalam buah sawit. Aktifitasnya menghasilkan formasi FFA dipercepat bila mesocarp buah sawit pecah atau memar. Kedua hidrolisis katalis secara spontan. Reaksi ini dipengaruhi oleh kandungan FFA yang ada didalam buah sawit dan telah berkembang yang berhubungan dengan suhu dan waktu.   Free fatty scid (asam lemak bebas) dalam minyak produksi adalah untuk menilai kadar asam lemak bebas dalam minyak dengan melarutkan lemak tersebut dalam pelarut organik yang sesuai dan menetralisasi larutan tersebut dengan alkali dengan menggunakan indikator phenolpthalein.   Nilai FFA dalam CPO tidak lebih dari 3%.  Faktor-faktor yang mempengaruhi FFA adalah :

  1. Tingkat kematangan buah sawit
  2. Memperpanjang penanganan buah dari waktu panen hingga waktu proses
  3. Keterlambatan atau penundaan antara panen dan proses
  • Moisture content

Penentuan kadar air pada minyak produksi adalah untuk menilai kandungan zat menguap dalam minyak, yaitu jumlah zat/bahan yang menguap pada suhu 103 deg C, termasuk di dalamnya air serta dinyatakan sebagai berkurangnya berat apabila sampel dipanaskan pada suhu 103 deg C. NIlai moisture content pada CPO tidak lebih dari 0,3%.

  • Impurities content

Kadar kotoran pada minyak produksi adalah untuk menilai kadar kotoran dalam minyak yang berupa zat yang tidak larut dalam pelarut organik yang telah ditentukan, kemudian disaring dengan media penyaring dan dicuci dengan pelarut tersebut, dikeringkan lalu ditimbang. Niali dirt content pada CPO tidak lebih dari 0,03%.

  • Peroxide value

Peroksida ialah hasil oksidasi pertama yang nontransient dan terbentuk  karena bertambahnya radikal aktif molekul oksigen pada gugus metilen aktif pada rantai asam lemak yang terdapat dalam minyak. Peroxide value adalah untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak atau lemak. Proses pembentukan peroksida dapat dipercepat oleh adanya cahaya, suasana asam, kelembaban udara dan katalis (logam Fe,Co, Mn, Ni dan Cr). Peroksida juga dapat mempercepat proses tmbulnya bau tengik dan flavor yang tidak dikehendaki dalam bahan pangan. Peroxide value pada minyak produksi untuk menilai bilangan Peroxide dalam minyak dengan cara titrasi ion yodida bebas dengan sodium thiosulfat.Nilai peroxide value pada CPO tidak  lebih dari 1 meq/kgl.

  • DOBI

Dobi adalah indeks daya pemucatan merupakan rasio kandungan karoten dan produk oksidasi sekunder pada CPO. Nilai Dobi yang rendah mengindikasikan meningkatnya kandungan produk oksidasi sekunder (produk oksidasi dari karotenoid yang dapat terjadi dari efek rantai asam lemak teroksidasi). Nilai Dobi diukur dengan alat spektrofotometer UV-Visible, kandungan karotene diukur pada absorbens 446 nm sedangkan produk oksidasi sekunder pada absorbens 269 nm. Nilai Dobi yang baik harus lebih dari 2,5.

  • ß Carotene

Senyawa karotene adalah suatu senyawa yang larut didalam lemak, berwarna kuning sampai merah di dalam CPO, sangat dipengaruhi oleh kematangan buah. β-Carotene pada proses refinery sengaja dihilangkan untuk memperolah minyak goreng yang jernih juga menghindari terjadinya degradasi β-carotene oleh panas, padahal β-carotene merupakan pro-vitamin A dan juga sebagai antioksidan alami. Spesifikasi > 500 ppm.

  • Iodine Value

Iodine Value adalah suatu besaran untuk mengukur derajat ketidak jenuhan dalam asam lemak. Ini dinyatakan dengan jumlah gram iodine yang diserap oleh 100 g lemak. Bilangan iodine tergantung pada jumlah asam lemak tidak jenuh dalam minyak. Lemak yang akan diperiksa dilarutkan dalam iso oktan kemudian ditambahkan larutan Iodine berlebih, sisa iodine yang tidak bereaksi dititrasi dengan Na. thiosulfat. Spesifikasi > 50.

Pengukuran Losses

  • Oil losses di sterilizer condensate

Tujuan : Mengukur kehilangan minyak pada masing-masing sterilizer, memonitor efficiency sterilisation, memonitor kematangan buah yang masuk, mempelajari kehilanagn minyak yang berhubungan  dengan double versus triple peak sterilizer, kualitas dari minyak sterilizer, mengetahui jangka waktu  pembersihan sterilizer.

Sampling point : Ex-trap condensate setelah recycle oil, jika tidak ada recovery fit harus diambil dari ex-strilizer.

Sample size : 200 ml/1.5 jam.

Sampling methods : Sampel dikumpulkan dalam wadah bertutup dan beridentitas jelas.

Spesifikasi : Kadar minyak didalam kondensat sterilizer tidak lebih dari 1,5% (wet basis).

  • Oil losses di empty bunch

Tujuan :  mengukur kehilangan minyak pada empty bunch, menghasilkan data harian dari kehilangan minyak untuk keperluan kontrol, mendeteksi FFB yang terlalu matang dan berlebih pada kapasitas thresher.

Sampling point : empty bunch conveyor setelah recycle.

Sampel size : 2 janjang/1,5 jam

Sampling methods : setiap janjangan ke 10 dan 20; empty bunch dengan USB dibedakan; belah memanjang menjadi empat bagian di mana 1 bagian  dari setiap janjang dirajang  dengan tebal 1 cm; tempatkan dalam plastik dan beri identifikasi jelas.

Spesifikasi : rata –rata USB tidak melebihi 2% dari total FFB yang diproses.

  • Oil losses di USB

Tujuan : memantau effisiensi dari proses sterilisasi dan threshing , memonitor kehilangan minyak akibat dari proses perebusan yang tidak  sempurna.

Sampling point : EB conveyor sebelum dilakukan proses perebusan ulang, EB conveyor setelah recycle.

Sample size : 400 atau 200 janjang/2 jam; 5 Janjang /1.5 jam.

Sampling methods : menghitung dengan counter janjang yang tidak rontok (5% brondolan yang masih melekat pada janjangan); mengambil janjang no. 25, 30, 35, 40 dan 45. Janjang yang tidak rontok buahnya harus dikembalikan dan diganti dengan janjang kosong.

  • Oil loses di fibre press

Tujuan : mengetahui  kehilangan minyak dan persentasi nut pecah dalam fibre, menentukan  ratio nut/fibre untuk pressing yang optimum.

Sampling point : contoh diambil dalam jumlah yang sama dari ketiga sudut corong keluar  press.

Sample size : 1 kg/1,5 jam.

Sampling methods : ditempatkan dalam wadah terpisah setiap press, wadah bertutup dan  beridentitas jelas. Spesifikasi : kehilanagn minyak didalam fibre dari mesin press tidak lebih dari 7 % (dry basis); biji yang pecah di dalam fibre tidak lebih dari 20 % (biji pecah/total biji).

  • Oil losses di klarifikasi

Tujuan : memonitor effisiensi dari proses klarifikasi.

Sampling point : dari ujung pipa sludge pada tangki clarifier.

Sample size : 200 ml/1,5 jam.

Sampling methods : contoh yang diambil disimpan terpisah untuk setiap tangki clarifier. Wadah bertutup dan beridentitas.

  • Oil losses di sludge waste

Tujuan : mengetahui kehilangan minyak dalam sludge waste, mempertahankan effeciency sludge centrifuge untuk meminimalkan kehilangan minyak dan menurunkan organic loading.

Spesifikasi : < 1% (wet basis)

  • Kernel losses di fibre cyclone

Tujuan : mengetahui banyaknya  kehilangan kernel pada fibre cyclone.

Sampling point : di bagian bawah pemutar sistem fibre cyclon.

Sample size : 1 kg/ 1,5 jam

Sampling methods : sampel dikumpulkan dalam wadah bertutup dan beridentitas jelas.

  • Kernel losses di winnower

Sampling point : Ex-Winnower.

Sampling size : 1 kg/1,5 jam.

Sampling methods : sample disimpan dalam wadah bertutup dan beridentitas jelas.

  • Kernel losses di claybath

Tujuan : untuk mengetahui total kehilangan kernel dalam shell setelah separation.

Sample point : Lubang pengeluaran cangkang dari claybath.

Sample size : 1 kg/1,5 jam.

Sample methods : sampel disimpan dalam wadah bertutup dan beridentitas.

Metode Pembagian Sampel

  • Bahan yang akan diambil sub sampel harus sudah homogen
  • Bahan yang telah bercampur/homogen diletakkan merata dan dipisahkan dalam 4 bagian yang kira-kira sama. Dua bagian yang berlawanan dibuang
  • Sisa dua bagian, dicampur ulang, dibagi 4 dan diambil 2 bagian yang berlawanan dan 2 bagian dibuang dst sampai diproleh suatu sample dengan berat yang diinginkan

Manajemen Laboratorium

Penerimaan bahan kimia

  • Kesesuaian bahan dengan spesifiaksi permintaan perusahaan
  • Dilengkapi dengan kelengkapan administrasi seperti MSDS (Material Safety data Sheet)
  • Wadah bahan dalam kondisi baik
  • Pelabelan wadah bahan

Penyimpanan bahan kimia

  • Lingkungan
  • Wadah
  • Bahan kimia lainnya

Pemakaian bahan kimia

  • Sebelum menangani suatu bahan kimia pelajari terlebih dahulu informasi bahaya bahan tersebut dalam  MSDS
  • Pergunakan Alat Pelindung Diri yang telah disediakan dengan benar dan pastikan jenis APD tersebut sesuai  dengan potensi bahaya dari bahan kimia yang akan kita tangani
  • Kegiatan pencampuran, pengenceran, pemanasan dll terhadap bahan harus sesuai dengan prosedur yang ada dalam MSDS
  • Pemindahan bahan ke kontainer lebih kecil dilakukan hati-hati dan pergunakan kontainer yang diperuntukkan  untuk pemindahan bahan tersebut. Pastikan kontainer sekunder ini berlabel jelas
  • Pencampuran, pengenceran atau pemindahan bahan terutama bahan korosif, oksidator dan beracun  sebaiknya dilakukan pada lokasi yang memiliki ventilasi lokal atau dilakuakn dalam lemari asam
  • Untuk kegiatan pencampuran atau pemindahan bahan mudah terbakar harus jauh dari sumber penyalaan atau panas
  • Bila bahan tidak digunakan pastikan wadah dalam keadaan tertutup untuk mencegah terlepasnya uap bahan yang berbahaya
  • Pekerja harus memperhatikan kebersihan setelah bekerja dengan bahan-bahan kimia terutama bahan beracun
  • Bila bahan tumpah maka pergunakan fasilitas penanganan tumpahan/spill kit yang tersedia

 

24 Responses to Laboratorium

  1. riaNDI mengatakan:

    SALAM..
    saya tertarik mengetahui lebih jauh mengenai PV (perokside Value),mungkin dari pembaca sekalian ada yang mengetahui bagaimana cara menghilangkan oksidasi yang terjadi ato memperkecil nilai PV, karna dalam proses refine CPO, untuk PV yang tinggi ( > 3.0) menghasilkan efek kenaikan warna pada produk refine CPO..

    thanks

  2. soso mengatakan:

    mencari sesuatu yang beda

  3. MIRZA mengatakan:

    permisi
    tau masalah oil wet basis dan oil dry basis g gan????
    tolong infonya y…
    thx

    • iRis mengatakan:

      Saya coba jawab ya.

      Oil wet basis adalah kadar minyak dalam suatu material dalam keadaan basah. Maksudnya dapat di jelaskan sbb :

      Material kering = mk Material basah = mb Kadar air = a Maka, mb = mk + a

      Jadi oil wet basis = kadar minyak / mb Dan oil dry basis = kadar minyak / mk

      Demikian penjelasan saya, semoga membantu.

      Sent from my iPhone

  4. pius perangin angin mengatakan:

    mau tanya arti dari :
    MPA DEGREE, cara menghitung dan angka yang ideal
    CLOUD POINT, cara menghitung, satuan dan angka ideal
    terima kasih…

  5. yudi helmi mengatakan:

    mau tanya :
    untuk analisa Iodine value selain mengunakan cara manual apakah ada alat lain yang lebih cepat untuk mengalisanya

    terima kasih

  6. Riant mengatakan:

    Slamat Soree Gan..
    moho kasi info donk cara pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi biogas?? apa nama bakterinya yang bisa menghasilkan biogasnya???

    • fenfen mengatakan:

      Enterobacter aerogenes TISTR 1468 sebagai organism yang membantu
      mengubah senyawa berbahaya dari limbah sawit ini menjadi ethanol atau
      alkohol.

      • dini mengatakan:

        info yg sgt bermanfaat…
        thanks Gan….

      • iwan mengatakan:

        Salam kenal…apakah bakteri tersebut bs menurunkan kandungan ALB pada limbah cpo…Saya ingin mengolah limbah sawit jadi biodesel..tp kandungan ALB tinggi skali..Mohan share para master ttg ilmu nya..Mksh..

      • yrisdi mengatakan:

        ALB tdk bisa diturunkan. Hanya bisa diperlambat perkembangannya melalui pemberian panas.

        Sent from my iPhone

        >

  7. Badru mengatakan:

    Kasih tau Gan. . .
    Definisi dari:
    @FFA,PV,IV,CP.& efek utk ksehatan?

  8. sutaji mengatakan:

    mohon dibantu, di pks menggunakan penjernih aqusorb 90, kandungannya apa pada bahan tsb

  9. sutaji mengatakan:

    atau disms ke 081354332250 trimakasih

  10. BOWO mengatakan:

    APABILA MEMBUTUHKAN ALAT – ALAT LABORATORIUM UNTUK BALAI PENELITIAN KELAPA SAWIT ATAU PERKEBUNAN DAN PENGOLAHAN KELAPA SAWIT BISA HUBUNGI SAYA DI 081210957582 BOWO . JKT

  11. Faqih mengatakan:

    Menurut anda apakah teknik kuartering tersebut sudah efektif? apakah ada cara lain untuk mendapatkan sub-sample yg lebih akurat? karena pada aktualnya yg saya jumpai di PKS manapun sample boy tidak disiplin dalam mengambil sample. dan kuarteringnya pun bisa dibilang tidak begitu sesuai dengan SOP.
    hal itu sulit diubah karena kebanyakan karyawan kurang berpendidikan, tidak mengerti fungsinya, dan susah merubah kebiasaan tersebut.
    ditunggu jawabannya.
    terima kasih

    • yrisdi mengatakan:

      Kuartering hanyalah salah satu cara. Tiap PKS punya SOP masing-masing, namun yg jelas tujuannya untuk mendapat sampel homogen yg dianggap mewakili. Sejauh yg saya alami, teknik kuartering ini sdh memberikan hasil yg mampu menggambarkan kondisi pabrik secara umum.

      Lalu masalah kedisiplinan sample boy. Ini hal yang lain. Ada sample boy yg disiplin ada yg tidak. Ada yg kurang berpendidikan spt istilah anda, ada juga yg sarjana (spt ditpt saya skrg). Yg pasti apa yg dipaparkan disini adalah sebuah standar. Masalah dilaksanakan atau tidak di lapangan, kita kembalikan pada petugas lapangannya.

      Sent from my iPhone

      >

  12. lukita mengatakan:

    apakah ada hubungannya jika rendemen cpo turun, rendemen kernelpun ikut turun, sehubungan dengan pemotongan buah yang masuk ke PKS agak dikendori

    • yrisdi mengatakan:

      Setahu saya tidak. Biasanya jika rendemen cpo turun malah rendemen kernel naik. Hal ini karena ketebalan mesocarp menipis, tetapi nutnya lebih besar.

    • Posma Sinurat mengatakan:

      Jawaban untuk pertanyaan ini bisa YA dan TIDAK, tergantung apa penyebab rendemen CPO itu turun. Jika turunnya rendemen CPO dikarenakan sangat tingginya buah mentah hitam (black bunch), maka pada saat rendemen CPO turun maka rendemen kernel juga akan turun karena kernel belum terbentuk dengan baik pada buah mentah hitam (masih de’gan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: